tyasblog

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Monday, December 21, 2009

Tangan Ibuku

Ada sebuah kisah yg saya ambil dari sebuah majalah...cerita ini sangat menarik sebagai perenungan kita kepada kasih ibu selama ini. Kenapa saya pilih cerita ini karena ada satu point penting yang kurasa sama dengan yang kualami. Semoga bermanfaat bagi pengunjung blog saya yang sederhana ini.

Inilah kisahnya:

Beberapa tahun lalu, ketika ibu datang berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersama karena dia membutuhkan sebuah gaun baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi belanja bersama orang lain. Dan saya bukanlah orang yang sabar. Tetapi walaupun demikian, kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hati berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Saya melihat bagaimana beliau mencoba pakaian tersebut, dan mencoba untuk mengikat talinya dengan susah payah.
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu beliau tidak dapat melakukannya. Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang mengalir keluar tanpa saya sadari. Setelah tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti dan mengikatkan tali gaun tersebut.
Pakaian itu begitu indah dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di ruang ganti, dan terbayang terus tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh kasih itu yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai, memeluk dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan penuh kasih itu telah bergetar karena usia, dan kini tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati. Dan saya memberitahukan bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
Sumber: Zaim Saidi, Mengasah Hati

Labels:

Sunday, August 03, 2008

Saya Percaya

Saya percaya,kita tak perlu ganti teman jika kita paham, teman-teman berubah.

Saya percaya,sebaik apa pun teman,sesekali mereka akan menyakiti kita dan kita harus memaafkannya.

Saya percaya,persahabatan sejati akan terus tumbuh,kendati pun terpisah dengan jarak terjauh. Hal ini juga berlaku untuk cinta.

Saya percaya,kita bisa melakukan sesuatu yang dalam sekejap membuat hidup kita susah.

Saya percaya,perlu waktu lama untuk menjadi orang yang saya inginkan.

Saya percaya,ketika akan pergi,selalu ucapkan kata-kata cinta kepada orang-orang yang dicintai.Kemungkinan itu kali terakhir kita melihat mereka.

Saya percaya,apa yang kita berikan akan tetap diingat sesudah kita tak bisa lagi memberi.

Saya percaya,bahwa kita bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan,apa pun yang kita rasakan.

Saya percaya,kita harus mengendalikan sikap,kalau tidak sikap yang akan mengendalikan kita.

Saya percaya,sehangat dan semesra apa pun hubungan pada awalnya,gairah akan memudar dan harus ada sesuatu yang lebih baik sebagai penggantinya.

Saya percaya,pahlawan adalah orang yang melakukan apa yang harus dilakukan,apa pun konsekuensinya.

Saya percaya,bahwa saya dan sahabat baik saya bisa melakukan sesuatu dan tetap merasa senang bersama.

Saya percaya,bahwa kadang ketika saya marah,saya punya hak untuk marah,tapi saya tidak berhak menjadi kejam.

Saya percaya,hanya karena seseorang tidak mencintai Anda dengan cara yang Anda inginkan,tidak berarti mereka tidak mencintai Anda dengan segala yang dimiliki mereka.

Saya percaya,kematangan lebih ditentukan jenis pengalaman yang Anda dapatkan dan apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu dan tidak ditentukan oleh jumlah ulang tahun yang sudah Anda rayakan.

Saya percaya,tidak selalu cukup dimaafkan oleh orang lain.Kadang kita harus belajar memaafkan diri sendiri.

Saya percaya,bahwa sehancur apa pun hati Anda karena putus cinta,dunia tidak berhenti berputar untuk kesedihan Anda.

Saya percaya,latar belakang dan lingkungan mungkin berpengaruh terhadap kita,tapi kita menjadi apa adalah tanggungjawab kita.

Saya percaya,hanya karena dua orang bertengkar tidak berarti mereka tidak saling cinta satu sama lain. Dan hanya karena mereka tidak bertengkar,tidak berarti mereka saling cinta.

Saya percaya,bahwa kita jangan terlalu ingin cari tahu tentang satu rahasia karena bisa mengubah hidup Anda untuk selamanya.

Saya percaya,bahwa dua orang bisa melihat dua hal yang persis sama dan menemukan sesuatu yang sama sekali beda.

Saya percaya,bahwa hidup kita dapat diubah dalam hitungan jam oleh orang yang bahkan tidak kita kenal.

Saya percaya,bahwa di saat kita merasa tak ada lagi yang bisa kita berikan,ketika seorang teman menjerit minta tolong,kita akan menemukan kekuatan untuk membantu.

Saya percaya,bahwa yang paling penting dalam hidup adalah orang yang paling Anda cintai.Katakan kepada mereka hari ini,betapa Anda mencintai mereka dan betapa mereka berarti untuk Anda.

Labels:

Thursday, December 27, 2007

Balas Budi Untuk Ibu

Ketika usiamu 1 tahun, ia menyuapimu dan memandikanmu.

Kau membalasnya dengan menangis sepanjang malam.

Ketika usiamu 2 tahun, ia mengajarimu melangkahkan kaki.

Kau membalasnya dengan lari menjauh kala ia memanggilmu.

Ketika usiamu 3 tahun, ia menyiapkan sarapanmu dengan segala cinta kasih.

Kau membalasnya dengan membanting piring di lantai.

Ketika usiamu 4 tahun, ia memberimu seperangkat krayon.

Kau membalasnya dengan mencorat coret meja makan.

Ketika usiamu 5 tahun, ia mengenakan pakaian untuk berlibur.

Kau membalasnya dengan bermain – main di onggokan lumpur.

Ketika usiamu 6 tahun, ia mengantarmu ke sekolah.

Kau membalasnya dengan berteriak, “AKU ENGGAK MAU SEKOLAH”.

Ketika usiamu 7 tahun, ia menghadiahimu boneka barbey.

Kau membalasnya dengan melemparkannya ke got depan rumah.

Ketika usiamu 8 tahun, ia memberimu es krim.

Kau membalasnya dengan menciprat-cipratkannya di sekujur badanmu.

Ketika usiamu 9 tahun, ia memanggilkan guru les piano.

Kau membalasnya dengan bermalas-malasan untuk berlatih.

Ketika usiamu 10 tahun, ia mengantarmu sepanjang hari, dari latihan marchingband sampai les balet, dari satu pesta ulang tahun ke pesta ulang tahun lainnya.

Kau membalasnya dengan melompat dari mobil secepat kilat dan tanpa mengengok lagi.

Ketika usiamu 11 tahun, ia membawamu dan teman-temanmu nonton film.

Kau membalasnya dengan duduk di barisan lain.

Ketika usiamu 12 tahun, ia menegurmu untuk tidak menonton acara TV tertentu.

Kau membalasnya dengan menunggunya sampai ia bepergian.

Ketika usiamu 13 tahun, ia memintamu memotong rambut baru.

Kau membalasnya dengan mengatakan bahwa ia tidak punya selera.

Ketika usiamu 14 tahun, ia membayarkan ongkos untuk satu bulan berlibur.

Kau membalasnya dengan tak sekalipun mengirimkan kabar.

Ketika usiamu 15 tahun, ia pulangbekerja dan mengharap mendapatkan pelukanmu.

Kau membalasnya dengan mengunci kamar tidurmu.

Ketika usiamu 16 tahun, ia mengajarimu mengendarai motor.

Kau membalasnya dengan mencuri – curi tiap kesempatan.

Ketika usiamu 17 tahun, ia mengharapkan telepon penting.

Kau membalasnya dengan menggunakan telepon sepanjang malam.

Ketika usiamu 18 tahun, ia menangis di hari kelulusan sekolahmu.

Kau membalasnya dengan pergi berpesta sampai pagi.

Ketika usiamu 19 tahun, ia membayar uang SPP perguruan tinggimu, mengantarmu membawakan task e kampus.

Kau membalasnya dengan mengucapkan selamat tinggal di pintu gerbang asrama agar tidak merasa malu pada teman – teman.

Ketika usiamu 20 tahun, ia bertanya apakah kamu telah menaksir seseorang.

Kau membalasnya dengan mengatakan, “Itu bukan urusanmu”.

Ketika usiamu 21 tahun, ia mengusulkan satu pekerjaan, untuk karier masa depanmu.

Kau membalasnya dengan mngatakan, “Aku tak ingin seperti kamu”.

Ketika usiamu 22 tahun, ia memelukmu di hari wisudamu.

Kau membalasnya dengan meminta ditraktir umrah.

Ketika usiamu 23 tahun, ia menghadiahimu furniture untuk apartemen pertamamu.

Kau membalasnya dengan menyebut furniture itu kepada teman – temanmu sebagai barang rongsokan.

Ketika usiamu 24 tahun, ia menjumpai tunanganmu dan menanyakan rencana masa depanmu.

Kau membalasnya dengan berkata “Uuuuuuhhh, ibu……!!”

Ketika usiamu 25 tahun, ia membantu membiayai pesta perkawinanmu, dan ia menangis haru, dan menegaskan betapa ia mencintaimu.

Kau membalasnya dengan pindah kota menjauhinya.

Ketika usiamu 30 tahun, ia menelepon dan memberimu nasihat tentang bayimu.

Kau membalasnya dengan mengguruinya, “Semua kini sudah berbeda”.

Ketika usiamu 40 tahun, ia menelepon mengingatkan hari ulang tahun saudaramu.

Kau membalasnya dengan berkata, “Ahh, betapa sibuknya aku sekarang”.

Ketika usiamu 50 tahun, ia sakit – sakitan dan membutuhkanmu untuk menjagainya.

Kau membalasnya dengan membacakan kisah betapa merepotkannya orangtua bagi anak - anaknya.

Sampai suatu hari, ia pergi dengan tenang untuk selamanya. Dan segala yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, bagai halilintar dating menyambar JANTUNGMU….

My Mom, I love you forever……… I hope Allah always bless you forever……….

Meskipun telat aku mo ngucapin "HAPPY MOM’S DAY"

Labels:

Friday, May 12, 2006

Ya Allah Kenalkan Aku dengan Diriku ........

"Barang siapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain." (Ibnul Qayyim)

"Diantara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduaniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya kepada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka. Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan adalah ketika bertambah ilmu pengetahuannya semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain. Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya." (Al Fawa-id, Imam Ibnul Qayyim)

Saudaraku,
Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca kalimat-kalimat tersebut? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Semoga Allah Swt membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang berbahagia dan menang. Semoga Allah menjauhkan hati dan langkah kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya. Amiin.

Saudaraku,
Salah satu pesan yang bisa kita petik dari petuah Ibnul qayyim rahimahullah itu adalah kedalaman ilmunya tentang lintasan dan perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim rahimullah yang banyak berguru pada Imam Ibnu Taimiyyah itu berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya, sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yang maknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudaraku,
Mengenali diri memang penting. Rasulullah Saw. juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain.
Dan memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah ini adalah seperti dikatan Ibnul Qayyim, "Barang siapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain."

Saudaraku, genggam erat tali keimanan kalian.

Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdo’alah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri. Sebagaimana senandung do’a yang dilantunkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri: “Allahumma arrifni nafsii”, Ya Allah kenalkan aku dengan diriku…..

Jiwa manusia banyak menyimpan rahasia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah Swt kepada kita. Karena itu ulama terkenal yang ahli dalam masalah kejiwaan Sahal bin Abdillah mengatakan bahwa mengenali diri sendiri itu lebih sulit dan lebih halus daripada mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri, sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.

Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengerahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan mengawasi keinginan-keinginan buruknya. Ini yang dikatakan oleh ulama Makkah bernama Wuhaib bin Ward, “Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.”

Sebagaimana juga perkataan Hasan Al Bashri. “Seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyadari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya.”

Saudaraku,

Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita di jalan-Nya. Itulah pentingnya mengenali diri. Sampai-sampai Umar bin Abdul Aziz yang dijuluki khulafaur rasyidin kelima itu mengatakan, “Aku mempunyai akal yang aku takut Allah akan mengazabku karenanya.” (Riyadun Nufus, 1/355). Umar bin Abdul Aziz banyak merenungi dirinya dan sangat mengenal dirinya, sehingga muncullah perkataan luar biasa itu.

Bahkan, karena pengenalan diri yang mendalam itu, Fudhail bin Iyadh radhiallahu anhu mengatakan, “la ya’rifur riya ila mukhlish,” riya tak mungkin disadari, kecuali oleh orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasakan manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya, orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya manisnya ikhlas dan pahitnya riya, hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.

Saudaraku,

Apa yang dikatakan oleh Fudhail itu tadi pun bertolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal jiwanya sendiri. Orang yang tidak mengenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apalagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan, “Bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada selain dirimu.” Ia melanjutkan, “Kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah karena kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekokohan dan kekuatan imanlah yang mengokohkan para ulama saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan baik manusia dan jin.” (Al-Fathur Rabbani, 30)

“Allahumma arrifnii nafsii…” Ya Allah, kenalkan aku pada diriku……

Labels:

Tuesday, May 02, 2006

kesehatan itu mahal

Mahatma Gandhi mengatakan bahwa "Kekayaan yang sesungguhnya
adalah kesehatan, bukannya emas atau perak."
Ini menunjukkan bahwa kesehatan itu mahal harganya, karena Mahatma
membandingkan kesehatan itu dengan barang - barang yang bernilai mahal
(emas dan perak). Oleh karena itu, maka kita semua wajib menjaga
kesehatan diri kita baik kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani
sehingga kita tidak mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk
pengobatan diri dari sakit.
Namun jangan jadikan kesehatan anda sebagai harga untuk mendapatkan
harta, atau memenuhi nafsu atau meraih jabatan, sehingga anda akan
merugi segala-galanya. sebab, orang yang kehilangan nikmat kesehatan
tidak bisa menikmati kesenangan.

Labels:

hidup adalah kesempatan

Hidup ini adalah kesempatan yang hanya bisa dirasakan setelah kita
kehilangan. Sedangkan kesehatan adalah mahkota yang bersemayam di atas
kepala orang sehat, yang hanya bisa dilihat oleh orang sakit.
Rasulullah Saw. bersabda "Manfaatkan lima kesempatan sebelum datangnya
lima kesempatan yang lain, yaitu:
1. masa mudamu sebelum masa tuamu
2. masa sehatmu sebelum masa sakitmu
3. masa kayamu sebelum masa fakirmu
4. masa hidupmu sebelum kematianmu, dan
5. masa senggangmu sebelum masa sibukmu." (HR. Hakim dan Baihaqi, d
ari Ibnu 'Abbas dan Ahmad dan Abu Nua'im, dari 'Amr bin Maimun)

Labels:

Terimakasih telah berkunjung di blog sederhana ini.... - Semoga bermanfaat..... ^_^